Dialektika Sekularisasi: Diskusi Habermas – Ratzinger dan Tanggapan
 
               
 
           
R E S E N S I
     
                   
   
     

Agama, Akal Budi dan Modernitas
Oleh: Otto Gusti

     
                 
Judul Buku : Dialektika Sekularisasi: Diskusi Habermas – Ratzinger dan Tanggapan
Editor : Paul Budi Kleden
Penerbit : Ledalero dan Lamalera, April 2010.
    xvi + 265 hlm
 
         

Deutschland ist das Land der Dichter und Denker” – “Jerman adalah tanah air para sastrawan dan pemikir”. Itulah ungkapan paling tepat untuk melukiskan kebesaran sekaligus kebanggaan masa lalu negara Jerman. Dari negeri ini telah lahir banyak sastrawan dan pemikir besar kelas wahid. Johann Wolfgang Goethe, Berthold Brecht, Friedrich Schiller adalah beberapa contoh nama besar yang turut menentukan perkembangan dunia sastra. Gaungnya tidak hanya sebatas Eropa, tapi menembus hingga ke seantero jagad. Dari ranah filsafat kita mengenal nama-nama seperti Immanuel Kant, G.W.F. Hegel, Martin Heidegger, Ernst Tugendhat, Theodor W. Adorno, dan sederetan nama besar lainnya.

Kebesaran Jerman bukan cuma milik tradisi masa silam. Dua pemikir besar yang sudah lanjut usia tapi masih produktif seperti Josef Ratzinger dan Juergen Habermas berasal dari negeri ini. Josef Ratzinger atau lebih dikenal dengan Paus Benediktus XVI adalah pemegang pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma sekaligus salah seorang teolog Katolik besar abad ini. Juergen Habermas merupakan seorang filsuf besar dengan tatapan mata terbuka ke persoalan-persoalan sosial seperti terorisme global, fundamentalisme agama, kemiskinan global dan dampak ekologis dari gaya hidup masyarakat modern. Karyanya paling banyak diminati dan dibaca oleh para penggemar filsafat. Berbeda dengan Josef Ratzinger sebagai penjaga kebenaran iman Katolik, Habermas menyebut dirinya “religioes unmusikalisch” – “tak berbakat secara religius” dan filsuf postmetafisis.

Karena berasal dari latar belakang tradisi intelektual berbeda, debat publik kedua antipode ini menjadi menarik. Pertemuan historis tersebut berlangsung pada hari Senin, 19 Januari 2004 atas inisiatif “Katholische Akademie” di Bayern, Jerman. Seminar utama Habermas dan Ratzinger yang dibawakan dalam diskusi tersebut dipublikasikan oleh Penerbit Herder, Jerman dengan judul “Dialektik der Saekularisierung”. Moderator diskusi sekaligus editor buku, Florian Schueler, menyebut karya ini sebagai “Das Dokument einer zukunftsweisenden Begegnung zur geistigen Situation unserer Zeit” – “Sebuah dokumen dengan perspektif masa depan tentang kondisi intelektual zaman ini”.

Wacana Komunikatif

Kehadirannya dalam edisi bahasa Indonesia di bawah judul Dialektika Sekularisasi yang diterjemahkan oleh Paul Budi Kleden patut disambut gembira. Pembaca akan dibantu karena edisi Indonesia dilengkapi dengan biografi intelektual dan komentar tentang pemikiran Juergen Habermas oleh A. Sunarko (hlm. 57dst.) dan Josef Ratzinger oleh Paul Budi Kleden (hlm. 129dst. ).

Apakah mungkin terdapat titik pijak bersama untuk membangun dialog antara seorang filsuf pencerahan dan teolog penjaga kebenaran dogma iman? Bukankah filsafat pencerahan ditandai dengan sikap kritis dan skeptis terhadap peran publik agama-agama, sementara kebenaran dogma cenderung menganggap rasionalitas sebagai musuh dan penghancur moralitas agama?

Tesis teologis awal Josef Ratzinger mengungkapkan dengan jelas bahwa filsafat pencerahan tak lebih dari sebuah ajaran sesat. Rasionalitas pencerahan bertanggung jawab atas putusnya pertautan erat antara iman dan akal budi, agama dan ilmu pengetahuan seperti tampak di Abad Pertengahan. Modernitas telah mendepak agama ke ruang gelap irasionalitas. Akal budi modern bersifat buta terhadap kebenaran prapolitis agama yang melampaui dirinya.

Akan tetapi dua posisi filosofis yang berseberangan ini tidak menghalangi Juergen Habermas dan Josef Ratzinger untuk bertemu dan berdebat mencari kebenaran. Kebenaran tak pernah dapat digenggam erat, tapi selalu hadir dalam proses pencarian di tengah sebuah masyarakat komunikatif. Kebenaran absolut yang digenggam erat hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam bahaya fundamentalisme, intoleransi dan terorisme.

Josef Ratzinger dan Juergen Habermas coba menemukan “prinsip-prinsip dasar sebuah tatanan masyarakat yang bebas dan damai”. Untuk itu agama dan rasionalitas sekular perlu membangun kerja sama.

Pertanyaan muncul, apakah agama boleh memberikan rambu-rambu batasan bagi ruang gerak akal budi? Ataukah agama yang harus dibatasi oleh rasionalitas sekular agar dijauhkan dari patologi fundamentalisme dan terorisme? Habermas dalam salah satu karyanya terbaru “Zwischen Naturalismus und Religion” – “Antara Naturalisme dan Agama” (2005) menunjukkan bahwa bahaya fanatisme bukan cuma milik agama, tapi juga dapat menggerogoti akal budi sekular dan ilmu pengetahuan modern. Ideologi naturalistis yang terungkap dalam kemajuan biogenetik, penelitian otak dan robotik telah melampaui kompetensinya dan berambisi menawarkan gambaran tentang pribadi manusia secara holistik.

Perbenturan antara naturalisme ilmiah dan fundamentalisme agama menuntut keterbukaan agama dan ilmu pengetahuan, iman dan rasionalitas sekular untuk terus membangun dialog. Dan wacana komunikatif antara agama dan ilmu pengetahuan ini telah dimulai dan dikembangkan oleh Josef Ratzinger dan Juergen Habermas.

Dalam dialog tersebut Josef Ratzinger berbicara tentang “Dasar-dasar Moral Prapolitis Sebuah Negara Liberal”. Bahaya nuklir, cloning manusia, kehancuran ekologis merupakan dampak teknologi modern dan produk akal budi manusia. Ini menuntut peran etis agama, demikian Ratzinger, untuk mengawal kerja rasionalitas. Agama dalam kaca mata Ratzinger berperan sebagai instansi moral tertinggi guna mengawasi agar proses modernisasi tidak tergelincir ke luar rel nilai-nilai kemanusiaan universal.

Peran Agama

Peran agama sebagai “organ kontrol” tertinggi dalam masyarakat liberal jelas tidak dapat diterima dalam kerangka berpikir postmetafisis Habermas. Alasannya, prosedur demokratis tidak dibangun di ruang kosong, tapi sudah mengandung muatan normatif. Karena itu dalam masyarakat demokratis tak ada lubang yang masih harus diisi dengan “substansi moral prapolitis” seperti dianjurkan Ratzinger (hlm. 8). Negara hukum demokratis, demikian Habermas, mendapat sumber legitimasi dari setiap proses diskursus bebas represi yang dibangun di ruang publik. Diskursus tersebut bisa, tapi tidak harus dibangun di atas tradisi agama-agama.

Namun Habermas juga tidak setuju apabila negara dibentuk dari “komunitas para setan” (Gesellschaft von Teufeln). Negara demokratis tetap membutuhkan nilai-nilai, motivasi dan kebajikan etis yang terpancar dari mata air tradisi agama-agama. Minat Habermas untuk berdialog dengan agama-agama ditunjukkan secara sistematis oleh Sunarko dalam artikelnya berjudul „Dialog Teologis dengan Juergen Habermas“ (hlm. 57-128).

Keterbukaan terhadap agama ditanggapi oleh Ratzinger sebagai pengakuan Habermas akan makna dan peran penting agama dalam masyarakat sekular. Modernitas dan filsafat posmetafisis kehabisan bahasa untuk mengungkapkan pengalaman manusia akan penderitaan, keselamatan dan hidup setelah kematian. Modernitas harus menyadari peran penting agama dan tak boleh secara apriori mendepaknya ke ruang irasionalitas. Habermas dan Ratzinger mengharapkan agar terjadi “proses belajar ganda dan komplementer” antara agama dan akal budi (hlm.28). Akal budi, demikian Habermas, adalah logos dari bahasa. Maka baginya adalah lebih gampang untuk beriman pada Roh Kudus.

Pertanyaan, mengapa Habermas masih menyebut diri sebagai filsuf postmetafisik jika akhirnya setuju dengan peran agama yang dianjurkan oleh Josef Ratzinger. Editor edisi Indonesia, Paul Budi Kleden, berkomentar bahwa apa yang dicapai kedua pemikir tersebut bukan konsensus sungguhan, melainkan quasi konsensus (hlm. 130dst.). Habermas dan Ratzinger sama-sama melihat pentingnya agama berkiprah di ruang publik. Namun kiprah agama menurut Habermas terjadi dalam kerangka postmetafisik dengan penghargaan atas pluralitas rasio. Sementara Ratzinger melihat pluralitas rasio sebagai bencana dan mengimpikan keutuhan dunia di bawah payung kerangka metafisis.

Kompas, 30 Juli 2010

Otto Gusti
*Dosen Etika Sosial di STFK Ledalero, Maumere-Flores

     
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                   
 
     
kembali